adhyaksadaultMenpora Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009 Dr. Adhyaksa Dault SH Msi jauh lebih sederhana dan ramah  dari gambaran semula bagi orang belum mengenal dari dekat. Bila tak mengenalnya dari dekat, maka akan berpikir dia angkuh dengan tampilan kumis tebalnya dan semangat bicaranya yang meledak-ledak di atas podium. Namun, kesan itu akan sirna begitu kita bicara padanya dalam bilangan menit dari lelaki kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah , 7 Juni 1963 ini yang memiliki banyak hobi olah raga, kesukaan atas musik dan deretan panjang aktivitas mudanya dari mulai menjadi aktivis HMI hingga menjadi Ketua Umum KNPI . Menurut teman dekatnya, figure Adhyaksa adalah sosok kawan yang hangat dan penuh perhatian pada orang lain.

Begitu dirinya dikukuhkan sebagai Tokoh Muda Terpopuler tahun 2008, ia mengatakan bahwa yang diperolehnya adalah berkat dukungan tim yang solid dalam mendukung program-programnya selaku Menpora. “Anugerah Tokoh Muda Terpopuler itu bukan semata faktor saya, tapi semua berkat dukungan teman-teman,“ katanya merendah.

Menanggapi munculnya kebangkitan kaum muda yang digulirkan jauh sebelum ini, ia mengatakan bahwa dalam percaturan politik kaum muda yang masuk partai adalah sunatullah. Menurut Adhyaksa , sudah seharusnya anak muda dimasukkan ke dalam partai. Kelebihan partai yang ada dalam memberikan akses adalah Partai Keadilan Sejahjtera (PKS), karena partai ini menyadari bahwa 57% pemilih adalah berasal dari kaum muda.

Menurut Adhyaksa, PKS sendiri merupakan buah dari konsolidasi komunitas dakwah yang berasal dari kampus-kampus di negeri ini, dan terinspirasi dengan perjuangan yang dilakukan kaum Ikhwanul Muslimin .

Meski ia dianggap sebagai kader PKS namun ia merasakan keleluasaan dalam berkiprah sebagai Menpora. Yang membuatnya tidak leluasa dalam membangun kaum muda di tanah air adalah terbatasnya anggaran di kementerian yang ditanganinya. Bahkan konon anggaran kementerian Pemudah dan Olah raga jauh di bawah anggaran satu direktorat jenderal dari Departemen Pendidikan Nasional. Padahal membangun pemuda sangat penting mengingat pemuda adalah asset bangsa yang tak ternilai harganya.Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempersiapkan generasi muda dengan baik.

Cita-citanya membangun negeri ini terinspirasi dengan  kekayaan ada pada laut. Itu sebabnya ia memilih program doktoral  di IPB di bidang teknologi kelautan. Tugas akhir yang diajukan  adalah focus pada Peran Pemuda dalam Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Dalam disertasinya, Adhyaksa mengupas permasalahan mendasar yang dihadapi anak bangsa ini di bidang kelautan. Persoalan yang dibahas adalah adanya kecenderungan turunnya kualitas nelayan, berkurangnya kuantitas nelayan usia muda, dimana  bukti empiris menunjukkan kehadiran nelayan sangat dibutuhkan dalam menyediakan konsumsi pangan yang bernilai gizi tinggi.

Keprihatinan Menpora atas merosotnya  peran pemuda dalam  industri perikanan dan tak kelautan  tak lepas dari  banyaknya perampokan hasil laut di tanah air. Bayangkan, setiap tahun Indonesia kehilangan 40 triliun  rupiah hasil laut yang dirampok oleh bangsa asing.

Bagi Adhyaksa, laut tidak dilihat sebagai faktor pemisah, tapi sebagai pemersatu bangsa . Inilah yang membuatnya yakin nasionalisme dapat dibangun dari kecintaan kaum muda kepada laut. Baginya, laut adalah masa depan bangsa. “Saya salut dalam pemerintahan Gus Dur membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan, “ puji Adhyaksa kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid.