amri-darwis

Awalnya Amri Darwis dikenal sebagai sosok pengusaha muda yang sukses di Jakarta. Namun kemudian, dia memilih menjadi birokrat dengan menjadi Bupati Lima Puluh Kota karena ingin menyerap aspirasi masyarakat yang menginginkan dirinya menjadi pemimpin di daerah dimana ia pernah menyelesaikan sekolahnya SMA Negeri 1 Payakumbuh pada tahun 1966. Kabupaten Lima Puluh Kota saat ini tengah memokuskan ke arah pembangunan masyarakat madani, yaitu masyarakat yang sejahtera lahir batin sebagai amanat yang dipikul pemerintah daerah dalam bingkai NKRI.

Amri menyadari, bahwa ternyata pembangunan fisik saja tidak cukup menjamin pembangunan yang harmonis tanpa peningkatan kualitas dari aspek moral dan akhlak. Malah nampaknya pembangunan fisik ternyata mematikan atau memarginalkan seseorang apabila diukur secara material. Ukuran materi tiada habis-habisnya dalam memenuhi keinginan manusia. Oleh karena itu, sebagai Bupati Lima Puluh Kota, Amri Darwis, mencanangkan program “ babaliak basurau”, yaitu bukan saja demi memakmurkan mesjid tapi juga menguatkan perilaku masyarakat bukan saja “ka” atau “ke” seperti yang selama ini didengar “kasurau”. Bukan itu saja, program Amri Darwis juga mendukung pemerintahan nagari mengaktifkan BMAS (Badan Musyawarah Adat dan Syarak Nagari), sesuai dengan filosofi Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, sehingga mencirikan masyarakat Minangkabau yang agamis. Semua ini dikatakannya pada Kamis (5/3) di Kantor Bupati Lima Puluh Kota yang Bukit Limau Sari Lamak , Jalan Raya Payakumbuh- Pekanbaru Km.10, Bukit Limau Sari Lamak.

Kekuatiran Bupati bukan tanpa alasan. Karena ternyata di Sumbar sendiri sudah masuk upaya-upaya untuk menghancurkan moral generasi muda melalui narkoba. Menurut sumber-sumber yang layak dipercaya yang namanya narkoba sudah masuk sampai ke pelosok kanagarian. Di situ sudah pernah tertangkap sejumlah kasus kejahatan di bidang narkoba .

Wilayah Kabupaten yang berbatasan dengan Propinsi Riau. Untuk wilayah bagian Utara Kabupaten ini ada sentra produksi pertenakan unggas, antara lain di Kanagarian Mungka, dimana pertenakan menghasilkan sekitar 5 juta butir telur unggas per hari. Semua disuplai selain untuk Sumbar juga dikirim ke Jambi, Riau, Bengkulu. Dibagian Selatan, sentra pertenakan sapi dimana ada juga PTP.HMT dimana masyarakat mengupayakan apa yang ditransformasikan oleh PT.HMT dalam hal bertenak sapi. Sedangkan di bagian Timur ada perkebunan-perkebunan besar yang bergerak di bidang perkebunan karet dan sawit. Sementara di bagian Barat dipenuhi holtikultura, yaitu segala jenis sayur mayur. Dengan topografi berbukit dan berlembah dengan ketinggian 500-600m dpl. Secara geografis Lima Puluh Kota (asal kata koto identik dengan dusun) termasuk yang terluas di antara kabupaten lain di Sumbar. Jumlah penduduk sekitar 333.000 jiwa. Selama ini pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota di wilayah yang sama dengan Kota Payakumbuh yang lahir 38 tahun lalu. Namun, dengan adanya kebijakan pemerintah melahirkan kota, maka sejak 15 Agustus 2008 diresmikanlah kantor baru yang berada di Bukit Limau Sarilamak, Jalan Raya Payakumbuh- Pekanbaru Km.10.

Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki luas 3.354 Km2, yang secara administratif terbagi ke dalam 13 kecamatan. Kecamatan terluas adalah Kapur IX (723,36 Km2), kemudian diikuti oleh Pangkalan Koto Baru (712,06 Km2) dan Harau (416,80 Km2) serta Lareh Sago Halaban (394,85 Km2). Keempat kecamatan tersebut mencakup 67% luas Kabupaten, sedangkan Kecamatan terkecil adalah Luak dengan luas 61,68 Km2, kemudian diikuti oleh Situjuh Limo Nagari (74,18 Km2) dan Akabiluru (94,26 Km2). Selain dibagi atas wilayah kecamatan, wilayah kabupaten juga terbagi kedalam 76 nagari dan 384 Jorong.

Selama kepemimpinan Amri Darwis, Kabupaten Lima Puluh Kota terus berbenah diri memajukan masyarakat dengan menyediakan sekolah demi anak didik yang ada. Saat ini jumlah SD 367 unit yang tersebar di 13 kecamatan dan 76 nagari; SMP/Mts 46 unit; dan SMA dan SMK ada 9 unit. Juga terdapat Politeknik Universitas Andalas di sana.