Arie BudimanSejak sektor pariwisata digabung dengan kebudayaan sesuai dengan Perda DKI Jakarta No.10 Tahun 2008 tentang organisasi Perangkat Daerah, terlihat Ari Budiman dapat lebih menjiwai apa yang ditanganinya sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Menurutnya, kebudayaan merupakan hal yang tak terpisahkan dengan dunia pariwisata. Karena, kebudayaan merupakan magnet kuat yang membuat wisatawan tertarik untuk berlibur di suatu wilayah.

Sejak ia menjabat kembali sebagai Kepada Dinas Pariwisata–setelah sebelumnya menjabat di Biro Humas DKI Jakarta–,dinilai pengamat pariwisata kiprah kepariwisataan di DKI Jakarta semakin baik. Terbukti, kenaikan pajak yang dihasilkan dari tahun 2007-2008 mencapai 26,03 persen. Bila sebelumnya PAD sektor pariwisata hanya Rp.1.209.916.089.651, maka tahun 2008 mencapai Rp. 1.524.882.384.329.

Menurut Arie, dunia pariwisata dan kebudayaan merupakan profit center yang telah menyumbangkan lebih dari 7 persen total APBD DKI Jakarta pada tahun 2008. Penggabungan kedua sektor pariwisata dan kebudayaan saling melengkapi, ibaratnya dari hulu sampai ke hilir ditangani secara terintegrasi. Faktor budaya dianggapnya sebagai “daya beda” yang dapat menyedot wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Karena daya beda (diferensiasi) ini maka Jakarta akan menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan dari manapun asalnya.

Almanak budaya (budaya lokal) merupakan core budaya lokal dari multi point kebudayaan nasional yang menjadi puncak budaya suatu bangsa. Dengan kesempatan yang sama, khusus di DKI Jakarta, Arie menilai panglima kebudayaan Betawi lah yang harus Pemprop DKI Jakarta majukan sebagai daya tarik wisatawan.

Menurut Kepala Dinas yang ramah senyum ini Selasa(20/1) di Jakarta, ada 2 hal yang yang harus diperhatikannya, yaitu pertama bagaimana mengembangkan daya tarik (attractiveness) pariwisata dan kebudayaan. Berupa,site attractiveness actions, yaitu dengan menggelar event-event dimana setiap sudut harus menarik dan mampu meraih tingkat kunjungan proporsional. Kedua, competitiveness, yaitu bagaimana cara mencari jalan demi memenangkan persaingan sebagai objek wisata.

Melihat kedua hal di atas, Pemprop DKI Jakarta melalui Dinas pariwisata dan kebudayaan mengembangkan produk pariwisata yang menyangkut penyediaan sarana dan prasarana. Termasuk promosi dan publikasi yang intensif dan terus mengembangkan peluang-peluang yang ada. Pihaknya paham dengan menampilkan potensi kearifan lokal dengan menyokong inisiatif masyarakat terlihat dengan menyelenggarakan Kemang Festival atau Jalan Jaksa Festival, misalnya. Ia melihat event-event seperti Jakarta Great Sales, Jifest, Jakarta Dance dan lain-lainnya patut didukung oleh Pemda. Di samping itu event yang telah berlangsung lama, seperti Jakarta Fair terus menjadi perhatian Dinas Pariwisata demi menghasilkan citra pariwisata yang aman, nyaman dan menyenangkan di Jakarta.

Salah satu tempat kunjungan wisata di Jakarta, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) terus dibenahi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Menurut Ari, TIM bukan saja sebagai laboratorium budaya tapi juga sebagai “oase budaya”, dimana anak bangsa yang haus dengan sentuhan-sentuhan budaya dapat datang ke sana dengan mempelajari serta menikmati sajian-sajian budaya lokal maupun nasional yang ada dalam agenda budaya TIM. “Dengan melestarikan budaya bangsa, maka generasi muda bangsa ini tidak akan mudah tercerabut dari akar budaya nusantara dalam menghadapi serangan budaya-budaya asing dalam era globalisasi ini,” yakin Ari

Melihat tugas berat yang diemban oleh Dinas Pariwisata ada baiknya, Gubernur DKI Jakarta selayaknya menambah alokasi anggaran untuk sektor pariwisata dan kebudayaan. Misalnya, dengan membuat kebijakan, bagi dinas teknis yang sukses maka alokasi anggaran bisa diberikan 30% dari PAD yang terkumpul oleh dinas terkait. Bila ada kebijakan yang bersifat rewards tersebut, bukan tidak mungkin merangsang para pejabat eselon dua untuk meningkatkan prestasi kinerja.