foto06Bagi seorang politisi yang bijak, berpolitik hanyalah sebagai sarana untuk berbakti kepada masyarakat luas. Demikianlah yang disadari oleh Ayi Senjaya dalam perjalanan hidupnya di dunia politik. Sehingga ia tak kecewa saat 10 bulan menjelang akhir masa jabatannya pada tahun 2004 dicopot dari PDIP karena tak mengikuti petunjuk pimpinan partai yang harus memenangkan salah satu calon pasangan Cabup dan Cawabup Kabupaten Garut kala itu.

”Bagi saya, berpolitik mesti santun dan harus berani ambil resiko meski dipecat sekalipun,” kata Ayi. Laki-laki berkacamata minus ini menolak untuk memenangkan pasangan yang diarahkan oleh pimpinan PDIP, karena menyadari bahwa pasangan tersebut bermasalah dalam hal kinerja kepemimpinannya. Untuk itu ia rela dipecat dan sempat pindah ke PNBK sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergabung di Partai Pelopor.

Menurut Ayi, saat ditemui pada Jumat (20/3) sore di Kantor DPC Partai Pelopor Kabupaten Garut, Jl. Jenderal Sudirman, Garut, Jawa Barat pilihan pada Partai Pelopor karena dianggapnya partai inilah yang paling konsisten dalam menjalankan ajaran Bung Karno yang terangkum dalam Trisaksi, yaitu berdaulat dalam politik; berdaulat dalam ekonomi; dan berkepribadian dalam budaya nasional.

Kesemua ajaran Bung Karno ini adalah ciri khas perjuangan Partai Pelopor dalam membentuk karakter bangsa yang sepanjang berdirinya Negara ini selalu mengalami rongrongan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari dalam negeri adalah akibatnya paham-paham primordial dan paham feodalis yang membuat bangsa ini lambat berkembang. Sedangkan ancaman dari luar negeri, adalah pengaruh budaya Barat yang tidak cocok bagi karakter bangsa yang mendiami nusantara ini, jelas Ayi sambil memberikan komparasi dengan apa yang dilakukan oleh Jepang, Cina dan India dalam mempertahankan budaya nasional mereka.

Ayi melihat Partai Pelopor di Kabupaten Garut merupakan tempat yang cocok dalam menyemai bibit-bibit nasionalisme anak bangsa. Karakter alam dan budaya Jawa Barat yang pernah membesarkan Bung Karno pada awal-awal pergerakan nasional cukup mempengaruhi jiwa masyarakat Kabupaten Garut yang nasionalis dan religius. Di samping itu, menurutnya, hubungan komunikasi di antara Partai Pelopor sangat kental rasa solidaritasnya.

Karena Ayi telah berpengalaman sebagai anggota Dewan tingkat DPRD Kabupaten, maka ia mengerti apa yang diinginkan rakyat saat ini. Sesuai program kerja Partai Pelopor, maka tema-tema kampanye yang disampaikan via door to door adalah bagaimana rakyat ini mendapatkan hak-haknya di bidang pemenuhan hak pendidikan; hak menerima kesehatan; dan hak memperoleh pekerjaan dapat lebih terjamin. Ia yakin saja semua itu bukan saja dibebankan pada Negara dan pemerintahan yang berkuasa, tapi juga membuka kesempatan semua pihak untuk berkontribusi. Oleh karena itu ia dan kawan-kawan dari Partai Pelopor menjalankan usaha pemenuhan bibit tanaman keras yang ada sekitar jalan antara Terminal Guntur – Galumpit. Selain bernuansa bisnis, menurutnya, semua jenis bibit tanaman tersebut dapat berfungsi menjaga kelestarian tanah dari bahaya erosi, tanah longsor maupun bah.