Ketua Gerakan Nasional Calon Independen, Fajroel Rachman, mengatakan wacana pemimpin muda jangan sekedar menampilkan tindakan meminta-minta. Hal itu dikatakannya pada Selasa (22/7) di Jakarta.
“Bagi kami politik adalah untuk kebahagiaan manusia. Sedangkan kekuasaan adalah alat untuk mencapai kebahagiaan itu,” jelasnya.
Menurut Fajroel, generasi muda pada 1998 lewat aksi massa menuntut reformasi merupakan bukti perjuangan mereka. Reformasi 98 telah terbukti menjadi tonggak demokrasi yang dimotori kaum muda dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa hingga sekarang. Yakni bisa melepaskan rakyat dari penindasan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Sedangkan beberapa kaum tua, yang saat ini maju di Pilpres 2009, menurutnya, justru mati-matian membesarkan dan melindungi kekuasaan antidemokrasi itu.
“Kalau diumpamakan, kalangan muda yang menanam, kalangan tua yang menuai. Yang muda jadi martir yang tua berebut kekuasaan saat itu. Jadi yang haus kekuasaan siapa sebenarnya?” tanya Fajroel.
Dalam pemikiran Fajroel, pertaruhan dua generasi antara tua dan muda amat besar. Soalnya menyangkut masa depan Indonesia. Dia berpendapat, dari pengalaman di era reformasi selama 10 tahun terakhir, kemampuan kaum tua mengalami kegagalan. Bila hal tersebut tetap dipertahankan maka akan mengalami stagnasi.
Untuk mengatasi masalah itu, menurut Fajroel, perlu ada regenerasi kepemimpinan nasional segera. Paling tidak, baik tokoh muda maupun tua bisa punya kesempatan sama untuk tampil di Pilpres 2009. Bukan saja didominasi kalangan parpol, yang berdasarkan urut kacang, siapa yang lebih tua dia yang muncul duluan.
O comments at "Fajroel Rachman: Siapa Yang Haus Kekuasaan?"
Comment Now!