ki-gendeng2Mayoritas masyarakat pasar, dari pedagang buah, tukang becak, sopir angkot , hingga preman yang ada di wilayah Kota Bogor mengetahui dimana rumah Ki Gendeng Pamungkas (KGP) alias Iman Santoso. Lelaki sederhana yang terlihat murah senyum ini ternyata begitu lengket di telinga arus bawah, wong cilik, atau nama lain dari kelompok kebanyakan. Mengapa begitu? Ternyata tokoh paranormal ini sangat banyak kawan dari golongan manapun. Ia sejak kecil memang suka sekali berkawan dengan masyarakat sekitar tempat ia tinggal di Gang Caringin, Komplek Angkatan Udara.

Rumah yang dia tinggali sekarang di Bogor Baru, berkibar bendera Front Pribumi dengan tujuan mengangkat semangat kaum pribumi melawan penjajahan dari bangsa sendiri (begitu bunyi kampanye KGP) dalam berbagai spanduk yang dipasang di depan Tugu Kujang , dekat Kampus IPB dan Botani Square, Bogor.

Ketika ditanya , mengapa ia begitu konsen dengan perjuangan membangkitkan semangat kaum pribumi? Maka jawaban yang diterima pastilah akan membuat kita kaget. Menurutnya, kelompok China di negeri ini bukan lagi minoritas. Mereka justru sangat mayoritas dalam berbagai kesempatan, kepemilikan, dan lainnya. Bagi KGP peringatan kepada kaum pribumi bahwa orang China di negeri ini telah menguasai 80-an % lahan di Bogor dan 67 % lahan yang ada di seluruh tanah air bukan hal main-main. Ini peringatan penting bagi seluruh pribumi yang ada di tanah air. Menurutnya, hanya pemimpin korup yang membiarkan ekspansi orang China di tanah air bukan sebagai ancaman bagi kaum pribumi. Sambil menuding kepada kebijakan pemerintahan Gus Dur yang mengakomodasi kelompok China dengan membuka berbagai kemudahan dan fasilitas, maka tunggu saja suatu waktu negeri ini akan benar-benar dikuasai oleh orang China. Menurut KGP, negeri ini akan menjadi Propinsi terbesar dari China.

Kerisauan KGP sangat beralasan. Sebab, menurutnya, di Malaysia dan Amerika Serikat sendiri orang China diproteksi dengan jalan memberikan kemudahan dan fasilitas lebih dahulu kepada bangsa Melayu atau bangsa Amerika Serikat dahulu. Sehingga wajar bila ada Kampung China di Malaysia atau China Town di Amerika Serikat. Namun , kebijakan proteksi kepada orang China yang dilakukan oleh Soekarno dan Suharto lambat laun semakin kendor bahkan membiarkan mereka melakukan ekspansi dari sisi ekonomi, politik, pendidikan hingga mungkin kelak ideologi.

Front Pribumi yang didirikan pada tahun 1996 oleh KGP bersama dengan Eggi Sudjana dan lainnya tetap mengacu kepada pijakan hukum. Orang China yang sangat diwaspadai adalah semua orang China yang merugikan negeri ini dengan cara membobol bank, melakukan illegal logging, melakukan perdagangan madat dan aneka kejahatan ekonomi lainnya.

Sampai sejauh mana perjuangan KGP dalam mengibarkan panji-panji Front Pribumi? Bersama ini kami kompilasi dengan wawancara langsung calon walikota Bogor 2008-2013 dari perwakilan independen, Selasa (23/9) di Perumahan Bogor Baru, Bogor:

1.Tanya : Sejauh mana kesiapan Anda dalam menghadapi Pilkada Kota Bogor?

Jawab: Persiapan hampir tidak ada. Coba bayangkan, 29 April 2008 sejumlah pengurus Front Pribumi mendatangi saya untuk siap mengikuti proses Pilkada Bogor. Akhirnya, saya ikut untuk mengakomodasi dan mendaftar ke KPUD setempat pada 1 Mei. Bagi saya, mereka, para pendukunglah sebenarnya yang imenginginkan saya menjadi walikota

2. Tanya : Anda dikenal dekat di kalangan akar rumput khususnya masyarakat pasar di Kota Bogor, bagaimana pengaruhnya dengan yang di pelosok kota Bogor?

Jawab: Perlu anda ketahui Front Pribumi sudah ada perwakilannya di 19 kepengurusan setingkat propinsi. Mereka sangat militant dan berasal guru honor, ibu-ibu RT, janda, kaum dhuafa, dan lainnya. Dari mereka mengumpulkan uang sekitar Rp. 3 juta per hari. Bahkan di Kota Bogor ada 1500 pemulung yang ikhlas mengumpulkan dana Rp.500,- per orang dan dikelola oleh Koperasi demi mengusung  saya sebagai calon Walikota Bogor. Bahkan dari kelompok China pingiran, Lucky dan Ghozin bahu membahu menyukseskan calon walikota yang mereka cintai  KGP.

3. Tanya : Apa saja konsep perekonomian yang ada tawarkan?

Jawab : Yang utama adalah menyetop kran upeti. Tidak boleh lagi ada pungli. Prinsipnya, pejabat daerah harus melayani, bukan malah memperlambat dan menerapkan biaya tinggi untuk layanan yang diberikan kepada masyarakat. Agar motivasi kerja terpacu aparat Pemkot Bogor, aparat camat dan lurah di wilayah Kota Bogor akan diberikan mobil dari uang saya! Pokoknya saya akan membangun tatanan baru di kota Bogor.

4. Tanya : Konsep pembukaan lapangan kerja?

Jawab: Nanti akan saya alokasikan mana saja SDM di setiap kelurahan yang baik dan dapat ditingkatkan . Misalnya, Desa di Katulampa apa yang menjadi produk utama dari masyarakat setempat, maka Pemkot harus membantu menghidupi usaha tersebut dengan bantuan permodalan yang didapat dari warga kaya yang ada di Kota Bogor.

5. Tanya : Konsep pelayanan kesehatan dan pendidikan?

Jawab: Keduanya adalah program pemerintah pusat. Jadi agar sinkron, maka fungsi walikota hanyalah pengawasan. Khusus pendidikan, saya sudah lakukan sejak tahun 1991 hingga hari ini. Sejak tahun itu saya sudah membantu kaum dhuafa, wong cilik dan anak-anak terlantar untuk mendapatkan kesempatan bersekolah.

6. Tanya : Masalah transportasi di Kota Bogor sudah sangat sumpek, bagaimana anda akan mengaturnya?

Jawab : Jangan lupa, para sopir angkot juga sudah rindu tidak macet. Bagaimana kendaraan yang dikemudikan dengan nyaman. Ini impian akan menjadi kenyataan karena saya akan menghapus “double trayek” yang berlangsung selama ini dan semua pemakaian angkot yang over loaded pada hakekatnya merugikan kita semua. Pemberi trayek yang sembarangan dan membuat macet pada akhirnya adalah orang yang sontoloyo.

7. Tanya : Bagaimana anda memandang kehidupan beragama di Kota Bogor dan toleransi di antara warga dalam segala aspek kehidupan?

Jawab :Kehidupan beragama di Kota Bogor saya jamin kondusif. Misalnya, sepanjang Jalan Surya Kencana dimana Klenteng hingga ke Jalan Awut, setiap Malam Sabtu dan Malam Minggu akan kami seop sementara demi berlangsungnya Malam Pecinan di sana. Event budaya harus kita hargai demi melestarikan kekayaayn budaya yang ada di tanah air,  dimana bagi kaum tua semua itu adalah upaya dalam bernostalgia.

Sedangkan menjawab bagaimana kiat menjaga kerukunan, maka semua pihak harus tetap dipersatukan dan jangan takut globalisasi. Sebab globalisasi adalah sebuah keniscayaan bukan sekedar momok “penjajahan baru” yang harus ditakuti. Itu semua tidak akan terjadi bila kita intens berlaku sebagai seorang Pancasilais dan Nasionalis.