Namanya cukup mudah diingat, Margiono. Lelaki kelahiran Tulungagung 31 Desember 1960 ini adalah seorang yang sukses di dunia media massa cetak. Margiono yang memulai karirnya sebagai wartawan Jawa Pos tahun 1984 hingga kini telah menjadi salah satu Direktur di Jawa Pos . Karirnya sangat cepat menanjak sejak ia dan kawan-kawan seperjuangannya melahirkan koran Rakyat Merdeka pada tahun 1999 dan beberapa koran dan tabloid lainnya seperti Nonstop,Lampu Merah, Lowongan Kerja (Loker). Ia pun banyak punya ide yang unik, antara lain mendorong terbentuknya DPR Merdeka, yaitu organisasi yang anggotanya terdiri dari para penulis dari kalangan pembaca koran Rakyat Merdeka yang berdiri sejak tahun 2001 hingga hari ini. Semua anggota DPR Merdeka mendapat kesempatan mengirim tulisan berupa reportase ataupun sejenis opini ke koran Rakyat Merdeka. Bahkan anggota DPR Merdeka dibekali kartu identitas yang tidak jauh beda dengan kartu pers sebagaimana layaknya wartawan.
Dalam kesempatan menyampaikan harapan dalam Kongres PWI di NAD menjelang akhir Juli 2008 ia mengatakan , “Saya punya seribu cita-cita dan angan-angan, tapi akan tunduk pada keputusan kongres. Soalnya, pada titik mana yang akan diprioritaskan,” ujarnya bertanya.
Prioritas yang hendak dikembangkan Margiono adalah pertama, menjaga dan mengembangkan prinsip solidaritas wartawan. PWI adalah organisasi besar. Tanpa ada solidaritas tinggi, organisasi ini akan runtuh. PWI tidak bisa digantungkan pada keputusan-keputusan satu orang, tapi harus dirumuskan bersama dalam semangat solidaritas.
Prioritas kedua adalah solidaritas lintas penerbitan. Menurutnya, tak ada penerbitan superior dan inferior. Sebab, belum tentu penerbitan besar menjadi masterpiece dalam hal standar profesionalisme wartawannya. Tantangan PWI ke depan menurutnya masih tetap besar. Makanya PWI harus disegarkan. Punya semangat baru, memiliki image baru, brand baru. PWI harus tetap menjadi organisasi dalam format yang besar.
Prinsip image baru yang harus dikembangkan adalah pelayanan. PWI harus bisa melayani. Pengurus pusat melayani pengurus daerah. Cabang adalah inti dan roh organisasi. Pengurus cabang dan pusat melayani anggota. Pengurus jemput bola dan aktif. Sedangkan menyangkut program andalan PWI ke depan, ia menawarkan dua prioritas.
Pertama, peningkatan standarisasi profesionalisme wartawan. Tapi, menyerahkan persoalan ini pada penerbitan pers saja adalah berbahaya. Penerbitan dan organisasi wartawan punya visi berbeda. Perusahaan pers punya prinsip keuntungan. Yang menjaga moralitas prinsip itu adalah organisasi wartawan, PWI. Kedua, pembelaan wartawan. Kasus penganiayaan terhadap wartawan, terjadi di mana-mana, di daerah-daerah. Dan kasus-kasus semacam itu tidak bisa ditangani oleh penerbitan. PWI harus maju melakukan pembelaan luar biasa kepada wartawan yang dianiaya. Dibutuhkan bargaining power yang kuat dari organisasi seperti PWI agar pembelaan lebih optimal.
1 Comment at "Margiono: Saya Punya Seribu Cita-cita dan Angan-angan"
Mudah mudah satu cita cita dan angan angan bisa terealisasi dari pada seribu angan angan tapi kosong pak.Sekarang ini bukan lagi orang memilih orang yang pinter ngomong tapi cari orang yang bisa kerja dan kelihatan hasil karya nyata bapak sekarang ini.
Comment Now!