Kerusakan lingkungan dan hutan di tanah air sudah sangat parah di negeri ini. Aneka bencana alam silih berganti melanda tanah air akibat kerusakan hutan di hulu belum juga menyadarkan para perampok kekayaan alam. Hal ini membuat Mayjen(Purn) Suwarno Adiwijoyo resah dan ia tumpahkan dengan banyak menulis. Kini ia sibuk tidak lagi menulis tentang buku yang berkaitan dengan militer dan ideologi semata, tapi juga tertarik dengan yang berhubungan dengan pertanian,perkebunan, kehutanan bahkan yang berhubungan dengan kelautan. Meski ia berasal dari TNI Angkatan Darat, tapi visi kemaritiman menjadi hal yang menarik perhatiannya. Hal itu dikatakan Suwarno pada Rabu(21/1) di Jakarta.
Suwarno tertarik dengan aktivitas yang menyangkut visi lingkungan dan visi yang menyangkut energi. Menurutnya, betapa banyak tindakan masyarakat yang merusak lingkungan karena salah dalam melakukan aktivitas bercocok tanam. Kebiasaan membuka areal hutan dengan land clearing dan mencangkul di areal yang mempunyai sudut kemiringan tanah demi menanam tanaman semusim adalah salah satu yang membuat tanah tergerus. Padahal,bila petani cukup membuat lubang-lubang tanam saja tanpa mencangkul lahan maka tanah tetap terpelihara. Namun, karena digemburkan seluas areal yang ada, maka akibatnya sering kita dengar terjadi bencana alam galodo dan banjir bandang yang memakan korban jiwa tidak sedikit.
Konsep kerusakan alam ini juga telah mulai rusak sejak jaman Belanda, yaitu dimana merubah hutan menjadi industri kayu dan mengejar visi ekonomi dengan menamam pola monokultur seperti merambah hutan menjadi perkebunan karet. Yang menyangkut energi, ia melihat aliran sungai dari hulu hendaknya dapat direkayasa menjadi energi listrik yang dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat desa sekitar aliran sungai dengan cara membuat bendungan-bendungan (cek dam) sehingga meringankan tugas pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi lisrik bagi rakyat. Selama ini sedikit sekali masyarakat yang memanfaatkan aliran sungai dalam memenuhi kebutuhan listrik, seperti yang ada di Petingpriono, Pekalongan, Jawa Tengah.
Suwarno berharap adanya tipikal LSM yang mampu membangun organisasinya melalui usaha-usaha bisnis sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi pengurusnya secara profesional dan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Ia memuji apa yang dilakukan oleh Ully Sigar Rusadi dalam membantu kesejahteraan masyarakat Badui di Propinsi Banten dengan memakai pendekatan budaya. Mantan Asospol Kasospol ABRI di era Syarwan Hamid ini menyampaikan gagasannya yang menyangkut pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM), Perkebunan 3 in 1 dan Mikro Hidro yang dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan tangan-tangan jahil.
Aktivis LSM yang ideal menurut Suwarno adalah orang-orang yang patut menguasai kebijakan-kebijakan yang dihasilkan di gedung DPR. Dengan cara itulah maka produk undang-undang yang berpihak kepada para petani dapat lahir, tidak seperti sekarang dimana aspirasi petani kadang dimanipulasi oleh wakil-wakil yang tidak mengerti dengan kebutuhan serta keinginan petani dan masyarakat kecil lainnya.”Bangsa ini harus maju tanpa harus tergantung pada bangsa lain, tetapi oleh kekuatannya sendiri. Dan peran LSM sebagai agen pembaruan sangat dinantikan,” tegas Suwarno.
Sebagai orang yang pernah menempati Asospol di ABRI (kini TNI) kultur sebagian masyarakat petani pun ia pahami. Itu sebabnya mengapa mengusulkan menanam pohon kemiri, enau atau jarak pagar dan pisang sebagai pola 3 in 1 dalam pengembangan perkebunan yang dapat menyejahterakan masyarakat. Menurutnya, kemiri relatif mudah tumbuh, tak ada hama yang berarti dan tidak susah dalam memanen, karena cukup memungut buah kemiri yang jatuh ke tanah. Dan ini sangat sesuai dengan kultur petani di tanah air yang sebagian besar terlalu sederhana dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Gagasan-gagasan Suwarno yang bernuansa lingkungan layak didukung oleh semua pihak yang peduli dengan lingkungan dan kesejahteraan petani.

O comments at "Suwarno Adiwijoyo: Rakyat Menunggu Peran LSM Sebagai Agen Pembaruan"
Comment Now!