Pria pekerja tekun satu ini dilahirkan 65 tahun yang lalu di desa Luragung Kuningan Jawa Barat. Lulus sebagai sarjana pertanian di bidang sosial ekonomi dan doktor ekonomi pertanian di IPB. Selain itu juga pernah mengikuti studi lanjutan di University of Sussex Inggris.
Mengawali karirnya di IPB sebagai asisten dosen Fakultas Pertanian IPB pada tahun 1969. Kini sejak Mei 2008 sebagai Guru Besar Tidak Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB dalam Ilmu Manajemen Sumberdaya Manusia. Aktif mengajar dan membimbing mahasiswa strata satu sampai strata tiga di Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), dan Sekolah Pascasarjana IPB khususnya Program Studi Ekonomi Pertanian, Manajemen Bisnis, Komunikasi Pembangunan, Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan (PSL), dan Program Studi Ilmu Manajemen.
Menanggapi krisis yang terjadi di Amerika Serikat ia menjelaskan sebagai berikut:
Saya percaya setiap orang pernah panik. Terjadi pada semua umur. Mulai dari yang enteng sampai yang berat. Mulai dari lingkup kepanikan yang relatif sempit sampai ke yang luas dan berefek ganda. Pernahkah anda mendengar atau melihat seorang bapak/ibu sepuh atau anda sendiri berteriak panik mencari kacamatanya? Padahal dia atau anda sedang memakainya? Pernahkah anda berada di gedung bioskop lalu ada info kebakaran di gedung itu? Pasti sebagian besar penonton akan panik berebutan untuk keluar. Nah, sekarang dalam konteks kriris moneter global, siapakah yang terkena panik mulai dari yang ringan sampai yang sangat serius?
Masih ingatkah apa yang terjadi pada bangsa Indonesia ketika (Juli 1997-1998) terjadi krisis moneter di Asia khususnya Asia Tenggara? Ketika itu nilai rupiah merosot tajam sampai pernah 15 ribu rupiah perdolar AS dari 2.200 rupiah perdolar AS; inflasi meningkat mencapai sekitar 300 persen; PHK besar-besaran karena banyak perusahaan yang kolaps; dan kerusuhan sosial utamanya di ibukota negara. Akibat dari kondisi itu bangsa begitu paniknya khususnya pimpinan nasional. Atas desakan bertubi-tubi dan begitu gencarnya tuntutan dari para mahasiswa, mendorong Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai presiden.
Akankah terulang lagi pengaruh krisis moneter dunia sekarang ini pada kehidupan bangsa seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998? Mudah-mudahan tidak. Namun kepanikan tetap saja ada. Misalnya ketika sebagian besar negara-negara mengantisipasi dengan menurunkan tingkat suku bunga namun Bank Indonesia sebaliknya. BI menaikkan BI rate menjadi 9,50%. Tujuannya agar pelarian uang tidak terjadi dan sekaligus berharap banyak dolar mengalir ke Indonesia. Efektifkah tindakan BI tersebut? Ternyata tidak. Dari beberapa sumber pada bulan ramadhan kemarin, sebelum idul fitri, dana yang diperkirakan keluar dari Bursa Efek Indonesia mencapai 22 triliun rupiah. Di sisi lain, modal asing yang disimpan di SBI telah menurun mendekati 30 triliun rupiah. Selain itu bunga bank umum ikut naik dan akan berpengaruh pada kemampuan investasi sektor riil. Belum lagi dikhawatirkan terjadi kredit macet sehingga NPL akan semakin merambat naik pula. Bagaimana dengan posisi cadangan kita? Tidak ada yang tahu persis. Konon sekitar 57 milyar dolar AS. Bisa dikatakan bahwa cadangan devisa masih aman. Padahal kalau info ini masih tertutup rapat dalam waktu yang lebih lama dikhawatirkan akan menimbulkan kepanikan baru di pasar uang. Selain itu IHSG juga mengalami penurunan tajam.
Apa yang terjadi pada fenomena ekspor komoditi Indonesia khususnya ke Amerika Serikat? Karena Amerika sendiri sedang mengalami resesi maka jelas saja nilai volume ekspor Indonesia ke negeri paman Sam itu akan tersendat-sendat. Hal ini nantinya akan membuat bentuk panik yang lain yakni terganggunya transaksi berjalan di masa depan. Kemungkinan besar Indonesia bakal mengalami defisit. Ini berarti kta tidak mampu meraup devisa yang besar dari ekspor.
Mengapa bisa panik? Secara teoretis kepanikan timbul kalau seseorang atau lembaga tertentu tidak memiliki kapabilitas termasuk pengetahuan dan jalan keluar yang memadai untuk menghadapi turbulensi. Dalam arti bahwa sumberdaya yang ada tidak cukup mampu digunakan untuk mencari pilihan terbaik. Selain itu kalau seseorang atau lembaga tidak melakukan antisipasi seandainya terjadi guncangan eksternal. Karena itulah untuk mengurangi rasa panik, ketika menyusun suatu kebijakan pembangunan termasuk kebijakan moneter dan ekonomi maka harus sudah mempertimbangkan kemungkinan terjadinya turbulensi eksternal. Tidak ada salahnya melakukan benchmarking pada negara-negara lain yang menyangkut dua kebijakan itu.
Asumsi-asumsi yang digunakan bahwa segalanya berjalan normal dan penuh kepastian tidaklah realistis. Misalnya pengembangan ekspor hanya dilakukan ke satu-dua negara besar saja yang dianggap relatif stabil seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Harus sudah punya program jangka panjang pentingnya ekspansi pasar ke berbagai negara lain. Di sisi produksi maka sudah saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan perizinan usaha dan ekspansinya dengan memangkas birokrasi yang panjang. Harapannya adalah agar ekonomi biaya tinggi bisa ditekan. Bersamaan dengan itu setiap perusahaan hendaknya mampu melakukan efisiensi dalam meningkatkan daya saingnya. Kalau semua itu bisa berjalan efektif maka berarti kepanikan yang mungkin timbul di kalangan karyawan tentang isu pemutusan hubungan kerja akan bisa ditekan.
Dari uraian di atas maka ada lesson learned bahwa kalau ada turbulensi eksternal maka setiap komponen bangsa ini janganlah cepat panik berlebihan. Sangat setuju sekali. Namun di sisi lain jangan pula kita berperilaku tidak panik berlebihan. Kalau itu terjadi sangatlah tidak realistis. Atau dengan kata lain kita pasrah pada keadaan. Akibat lanjutannya kita tidak berbuat apa-apa. Yang penting secara normatif dan idealnya wajar-wajar sajalah dalam menghadapi kepanikan. Artinya turbulensi adalah suatu fenomena yang given. Tidak mudah dikendalikan seketika. Perlu waktu yang cukup untuk berhasil asalkan optimis dan jauhkan spekulasi.
Selain menulis artikel ilmiah dan populer di berbagai jurnal dan surat kabar, sampai kini tercatat lima judul buku yang ditulis dan diterbitkan; berjudul Manajemen Sumberdaya Manusia Strategik (2001;cetak ulang tiga kali), Manajemen Mutu SDM ditulis bersama Dr.Aida Vitayala (2007), dan Horison:Bisnis, Manajemen, dan SDM (2008) serta dua buku populer masing-masing berjudul Rona Wajah (jilid Pertama dan Kedua;2006 dan 2007) dan Jantungku Harapanku (2003). Disamping itu ada empat buku populer lainnya yang ditulis bersama Dr. Illah Sailah dan diterbitkan yakni Produktif dan Sehat di Usia Lanjut, Peran Motivasi dalam Penyembuhan Stroke, Membangun Kebersamaan Menanggulangi Stroke, dan Bunga Rampai Stroke.
Selain sebagai dosen, pernah sebagai Pembantu Dekan III, Ketua Jurusan Sosek Faperta, Dekan Faperta, Ketua LPPM IPB, Pembantu Rektor IV IPB, dan Ketua Senat Akademik IPB, dan sebagai staf ahli Menteri Koperasi dan UKM,staf ahli Bimas Deptan, dan Tenaga Ahli pada Depdikbud dan Kementerian Koperasi dan UKM serta di Bappeda Jawa Barat. Sejak 30 April 2008 sudah memasuki masa pensiun namun masih ditugasi sebagai Ketua Program Studi Ilmu Manajemen Pascasarjana IPB.
Dari perkawinan dengan Prof.Dr. Ir. Aida Vitayala Hubeis, dikaruniai tiga orang anak. Yang pertama Drg. Ratu Mirah Afifah, dosen FKG Unpad, master di bidang Dental Sciences dari Sydney University Australia; yang kedua Ir. Tb.Nur Ahmad Maulana, MBA, MSc, PhD (doktor) di bidang International Finance dari University of Strachclide, Inggeris; dan yang ketiga Desina Kartika SSi, MComp.Sc (University of NewSouth Wales, Australia) dosen Departemen Ilmu Komputer FMIPA IPB. Dari tiga orang anak Sjafri dikaruniai enam orang cucu.
5 Comments at "Tb. Sjafri Mangkuprawira: Saya Percaya Setiap Orang pernah Panik"
Sosok Safri Mangkuprawira patut menjadi tauladan anak muda: tak mau diam meski sudah pensiun dan tetap rajin menulis di blogspot.
profil teladan anak muda. seorang yg memiliki daya saing kompetitif, mampu diadu, tidak kalah dan membanggakan. seorang anak dari daerah luragung yg terpencil mungkin menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak. mampu mendidik anak keturunannya menjadi orang yang juga berguna. alangkah bahagianya orang tua bapak sjafri.
profil anak muda dari orang2 kaya yang bisa olah raga balapan atau olah raga mewah lainnya namun tidak memiliki kemampuan bersaing dalam hal ilmu dan akhlak yang berguna buat orang banyak.
sekarang banyak anak muda kaya (sejak orang tuanya) memiliki kasus penganiayaan, narkoba dan sebagainya. tidak pantas menjadi panutan dan bahkan harus diisolasi sebagai hukuman sosial. tidak dipublikasikan media dan sebagainya.
jika saja masih diberikesematan maukah bapak menjadi pemimpin bagi kami yang muda2 ini pak sjafri ? seperti anak2 bapak yang berhasil mencapai pendidikan sangat baik, semoga menjadi penerus yang dapat membangun negeri kita ini.
wass wr wb
widjaya kusuma
memang hebat pak Sjafri, perlu jadi teladan.
alhamdulillah bisa kenal oarng sehebat dan sebaik pak Sjafri,
yang ingin membaca tulisan pak Sjafri, kunjungi : http://ronawajah.wordpress.com
salam,
kami bangga mengenal beliau,seorang yang memiliki karakter dan berwibawa.
terimakasih telah menjadi inspirasi bagi saya khususnya.
ada semangat yang muncul saat mengingat segala bantuan dan motivasinya.
alhamdulillah dengan semua kemampuan yang saya miliki, saya ingin mencontoh sikap dan kebijaksanaan beliau.
saya berharap. semua sifat baik dan kecerdasannya Allah limpahkan kepada saya.
anak kampung yang penuh keterbatasan tapi ingin sukses seperti beliau.
Semoga sehat selalu.
senyum dan sapa-nya sangat menyegarkan hari saya.
wassalam.
How I can download documents from WikiLeaks?
Thanks
Comment Now!